Les Mandarin Jakarta Tangerang dan Online.

Jago Mandarin Group

  • Home
  • Guru
  • Program
    • Biaya
    • Mandarin Bisnis
    • Ujian HSK
    • Korporat
  • Online
    • Surabaya
    • Medan
    • Bandung
    • Makassar
  • Lainnya
    • Jasa Penerjemah
    • Loker Tangerang
    • Buat Nama Mandarin
  • Gratis
    • Tes Kemampuan
    • Artikel

Tutors tackling kids' homework for $250 an hour

June 04, 2015 by Baldwin Husin

Some parents are paying up to $250 an hour for a tutor to come to their homes.
It is not for tuition lessons.

Instead, it is for the tutors to do their children's homework.
For these parents, it is something that cannot be helped, they say.
Their children are inundated with so much tuition, co-curricular activities and school assignments that they are struggling to cope.
Some tutors are even hired to complete primary school-level homework set by elite tuition centres.
Think of these tutors as homework elves. While the children sleep, these teachers do the assignments that need to be handed up the next day.

The rates are usually $200 an hour if the tutor travels to the child's home before midnight, and $250 if it is later.
A mother of a Secondary 3 student, who wants to be known only as Lilly, says she gets the tutors to come over whenever she realises her son is struggling with homework.
"Most of the time, the tutor will come by and my son will briefly tell him what is required," says the mother of two.
"While the tutor finishes the work, my son will do his other homework, or go to sleep if he is too tired."

Baca Juga: 4 Tips Belajar Bahasa Inggris 100% Work

Apart from just a problem of time, some parents feel that some of the assignments are superfluous.
They want to free up their children's schedule to focus on more important areas, rather than have them bogged down by unnecessary projects and homework.
Housewife Wendy Zeng, 40, feels that her 15-year-old daughter's assignments "serve no purpose".
When quizzed, she names project-based work that has no direct relevance to the subjects her daughter is studying, for instance a project on volunteerism, where the students had to dissect the pros and cons of being a volunteer.
"But they still have to hand in their homework. I prefer to get her to focus on what is more important. It is not like her grades have dropped or anything."
Madam Zeng spends about $800 a month on such services by tutors.
It is a lot to fork out, but it seems the high fees do not deter parents.
In 2012, The New Paper on Sunday polled 80 parents outside elite tuition centres in Singapore, and found that close to half had hired or would hire tutors to complete their children's homework.
Their job is to finish assignments handed out by the tuition centres which their children attend.
Pauline Soh, 43, hired a tutor to do the assignments given by the elite tuition centres that her 14-year-old daughter goes to.
The civil servant sets aside $500 to $700 a month for this tutor.
It had taken close to a year for her daughter to get a place at the tuition centre, and she wanted to ensure that her daughter kept her place there.

These elite centres have long waiting lists and entrance exams. They also require that a kid scores well to continue at the centre.
She reasons: "After all that effort, it would be such a terrible waste if she had to give up her spot for others on the waiting list just because she cannot finish the work."

June 04, 2015 /Baldwin Husin

TIPS pendidikan untuk anak-anak

June 04, 2015 by Baldwin Husin

Kian terbatasnya akses mengenal alam ternyata bisa membuat anak terkena nature deficit disorder (NDD) atau gangguan akibat kurangnya interaksi dengan alam.

Psikolog Anak dan Keluarga Mira D Amir mengatakan kebutuhan untuk berinteraksi dengan alam yang tak terpenuhi bisa menyebabkan gambaran atas alam pun kian terbatas karena tumbuhan menjadi hal yang sulit ditemukan. Terlepas dari itu, perkembangan dan keseimbangan otak kanan serta otak kiri terganggu. Kepadatan penduduk, tuturnya, mengikis ruang-ruang anak untuk melatih keterampilan fisik dan motorik kasarnya.

"Kepadatan penduduk yang ada membuat lingkungan rumah jadi sempit. Sementara anak membutuhkan latihan fisik seperti melompat, menendang, berlari itu kan jadi enggak ada. Ruang untuk mengasah keterampilan fisik dan motorik kasar jadi terbatas," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com,

Oleh karena itu, orang tua, tuturnya, perlu merangsang agar tumbuh kembang anak tak terkendala. Caranya, bisa dengan memberikan perkenalan secara visual melalui gambar kemudian bergerak ke tempat rekreasi agrowisata yang membuat anak mengenal tumbuhan lebih dini.

"Perlu rangsangan dari orang tua mengenalkan ke anak lebih dini sampai usia tertentu," katanya.

Akses terdekat dengan alam misalnya melalui taman memiliki sejumlah manfaat bagi tumbuh kembang anak. Community Manager HiddenPark Dithi Sofia mengatakan gangguan ini lebih banyak menimpa anak-anak dan berakibat pada masalah lainnya yaitu ketergantungan akut terhadap teknologi, meningkatkan potensi obesitas dan tubuh kerdil.

Baca Juga: 6 Tools You’ve Gotta Use to Learn Advanced Mandarin Chinese

"Ada anak yang takut bermain di rumput, ada anak sekolah menengah yang belum mempunyai pengalaman menanam. Bahkan, juga ada anak sekolah menengah yang tidak bisa membedakan jenis tanaman sayur," ujarnya saat dihubungi bisnis.com, belum lama ini.

Jakarta menjadi salah satu potret kehidupan perkotaan yang kaku dengan terbatasnya ruang publik. Terutama, taman kotanya. Menghabiskan waktu di taman kota bukan menjadi bagian kegiatan mayoritas masyarakat Ibu Kota.

Taman yang menyumbang banyak manfaat akhirnya menjadi tempat yang asing. Kalaupun ada, tak banyak yang kondisinya ramai dengan keluarga yang sengaja berpiknik atau sekadar menghirup udara yang lebih segar. Pusat belanja justru menjadi tujuan saat taman tak bisa menarik masyarakat.

Bertolak dari masalah itulah, sejak 2012 HiddenPark mengaktifkan kembali taman-taman kota. Taman-taman yang telah bernyawa di antaranya Taman Langsat Baroti, Taman Tebet dan Taman Tanjung. Taman ini kembali bernyawa dengan berbagai kegiatan seperti piknik bersama atau menggandeng komunitas lain yang membutuhkan ruang.

"Banyaknya taman kota, terutama di Jakarta yang kurang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Padahal, taman kota sendiri mempunyai banyak sekali manfaat," katanya.

Bila dilihat dari jumlahnya, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) di DKI memang terbatas. Dari proporsi ideal yang seharusnya 30% dari luas wilayah, DKI baru memiliki 10%. Dengan angkanya yang terbatas itu, HiddenPark mempercantik taman yang ada agar masyarakat berminat untuk menjadikan taman sebagai alternatif tujuan rekreasi.

"Tak hanya kegiatan komunitas, taman kota dihiasi berbagai macam instalasi seni untuk memberikan nilai estetika tambahan di taman," katanya.

June 04, 2015 /Baldwin Husin

Pendidikan spiritual juga penting untuk anak-anak

June 04, 2015 by Baldwin Husin

Menurut Anda, apa sebenarnya tolak ukur kebahagiaan seorang anak? Apakah ia bahagia lantaran memiliki banyak mainan, memiliki banyak teman, atau sering menyantap makanan kesukaannya seperti permen dan es krim? Ternyata, anak yang lebih bahagia adalah anak yang memegang teguh keyakinannya.
Setelah melakukan penelitian selama lebih dari 20 tahun, para peneliti dari Columbia University, Amerika Serikat menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki pengalaman spiritual yang kuat mengalami berbagai manfaat dalam kesehatannya. Menurut para ahli, anak-anak ini pun lebih bahagia secara mental.

Baca Juga: Binus International School Simprug Jakarta

Para peneliti menyebutkan, bahwa anak-anak yang memegang teguh sebuah kepercayaan tertentu memperoleh manfaat, tidak hanya fisik namun juga mental. Mereka lebih optimis dan memiliki ketekunan. Mereka pun terhindar dari depresi dan penyakit, bahkan memperoleh nilai baik di sekolah. Di samping itu, anak-anak ini pun memiliki kecenderungan 80 persen tidak melakukan seks bebas dan 40 persen tidak menggunakan narkoba.
Menurut studi ini, spiritualitas didefinisikan sebagai hubungan personal dengan alam, kehadiran universal, atau kekuatan yang lebih tinggi. Nah, apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendorong spiritualitas buah hatinya? Para peneliti menyarankan untuk mendorong anak melakukan aktivitas seperti meditasi, ibadah, berdoa, melakukan perjalanan ke alam liar.
Tidak hanya itu, dalam studi tersebut para peneliti juga menyarankan orang tua untuk meyakinkan anak agar tidak pernah takut untuk berbincang soal spiritualitas. "Meskipun akan menimbulkan rasa tidak nyaman, orang tua jangan menghindarkan diri dari pertanyaan yang diajukan oleh anak," ujar Lisa Miller PhD, ketua tim peneliti.
Miller juga menyatakan bahwa spiritualitas yang sehat lebih penting ketimbang kemampuan atau prestasi. Untuk itu, ia mendorong para orang tua untuk membantu anak secara aktif menumbuhkan unsur-unsur spiritualitas di dalam diri anak. Sehingga, sesulit apapun pertanyaan yang diajukan anak, membicarakannya dengan anak akan sangat membantu mental dan fisik mereka.

June 04, 2015 /Baldwin Husin

Mendikbud: Jangan targetkan anak usia dini dengan pendidikan yang rumit

June 04, 2015 by Baldwin Husin

Yogyakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengaku terhenyak saat berjalan-jalan di toko buku menemukan ada kartu baca untuk bayi delapan bulan. Pernah juga ia melihat buku seputar persiapan tes masuk TK (Taman Kanak-kanak) yang dijual di toko buku tersebut. “Anak TK masuk dengan tes?” tanya Mendikbud dalam Seminar Nasional Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yogyakarta, Kamis (28/5).

Di hadapan lebih dari 6.300 pendidik PAUD dari 19 provinsi di Indonesia, Mendikbud mengungkapkan, banyaknya buku semacam itu membuat orang tua merasa takut anaknya akan tertinggal, bahkan terbelakang, jika tidak diberikan materi pendidikan sebanyak mungkin di usia dini. “Jangan sampai anak-anak kita dibekali dengan target-target pendidikan yang rumit.  Tugas kita adalah menyadarkan bahwa ini adalah masa mereka meneruskan karakter pembelajar. Memberikan mereka kesempatan untuk bermain,” tutur Mendikbud.

Baca Juga: Cara Memilih Kursus Bahasa Inggris Untuk TOEFL Preparation, Cek Disini!

Dalam buku yang pernah ditulis Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, disebutkan bahwa bermain adalah tuntutan jiwa anak untuk menuju arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. Mendikbud menambahkan, di Taman Kanak-kanak itulah harus dipastikan kurikulum yang diterapkan membuat proses belajar semakin menyenangkan bagi semua anak usia dini.

“Karenanya kita harus jauhkan anak dari apa yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah dasar-dasar pendidikan kolonial, yaitu perintah dan hukuman. Gaya pendidikan semacam itu justru akan mengoyak batin anak, rusak budi pekertinya, karena selalu di bawah paksaan dan hukuman yang sering kali tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan,” ungkapnya membacakan apa yang pernah ditulis Ki Hajar Dewantara.

Sebaliknya, lanjut Mendikbud mengutip tulisan Ki Hajar, mendidik anak seharusnya dengan ketertiban dan tata tentram yang mampu menjaga kelangsungan batin anak. Tetapi anak juga tidak boleh dibiarkan terlalu bebas. Hal yang perlu dilakukan adalah tetap mengamati dan membimbing anak sehingga tumbuh sesuai kondratnya sendiri.  

“Sudahkah kita sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat menyadari konsep Bapak Pendidikan ini? Bukankah kita ingin agar anak-anak kita tumbuh besar sesuai zamannya, bukan tumbuh besar sekadar membuat kita yang mendidik merasa puas. Puas hari ini belum tentu baik di masa depan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga hadir membuka kegiatan seminar nasional tersebut mengatakan, persepsi tentang PAUD seharusnya diluruskan. Harus disadari PAUD bukan untuk mendinikan sekolah dengan mengajarkan hal-hal yang belum saatnya. PAUD semestinya disesuaikan dengan tahap perkembangan dan potensi anak dan diajarkan melalui cara bermain agar tidak merampas hak anak.

“PAUD di Indonesia memiliki keunikan yang disebut holistik dan integratif. Harapan saya agar PAUD bisa melakukan assessment bakat dan minat peserta didik, agar anak bisa diarahkan sesuai potensinya,” ujarnya. (Ratih Anbarini)    

June 04, 2015 /Baldwin Husin

10 ways your kids can love Mandarin Chinese class/course

June 02, 2015 by Baldwin Husin

Learning Chinese does not have to be dry or difficult. To share 10 ways to help your kids start loving Chinese.

1. Be patient and encouraging

The first and most important tip: realising that getting comfortable with Chinese takes time, especially if your kid currently lacks confidence in Chinese. The process of helping your kid love learning Chinese will takes months, not weeks. So when your child refuses to read a Chinese book or speak Mandarin at the start, do not worry or express displeasure as this is normal. Instead, praise your kid for baby steps (e.g. saying a word in Chinese) and encourage him or her to keep on trying.

2. Read Chinese books with your kids

Reading helps kids develop a love for languages and is an important step to helping them become effectively bilingual and confident Mandarin speakers. Select wholesome and age appropriate books – good quality picture books help pique interest in younger kids, while a strong plot will keep older kids enthralled. Start introducing Chinese books into bedtime reading sessions and soon habit will become second nature!

Parents who cannot read Chinese or struggle with the language should not be left out – they can read electronic books where voiceover and text highlighting help overcome this challenge.

Baca Juga: Youtuber Indonesia Channel Belajar Bahasa Mandarin Online dengan Subscriber Terbanyak

3. Sing your way to success

Songs are a great way to encourage kids to develop interest and an ear for the language. Younger kids are drawn to music which they can sing and dance to, while older kids are likely to benefit from wholesome Chinese songs.

4. Use Chinese cartoons as a tool

Kids love watching animation so do help them by selecting good educational Chinese cartoons. Use them as tools to encourage conversation, rather than passive entertainment. For instance, when watching a YouTube video with your kid, pause the video at regular intervals to ask leading questions in Chinese (“What are they doing? Who do you like best) and encourage your kid to reply in Chinese.

5. Challenge your kids

Kids love to win, so why not a Mandarin challenge? One easy way is to get your kids to read to you – this helps build oral confidence and word recognition skills simultaneously. It works well for non-Chinese students too – one of our Malay students loves to read to her mother and is happy to help correct her pronunciation!

cute child  using a megaphone in a classroom

6. Make speaking Chinese a game  

Kids also respond well when properly motivated. In our classes, we award students with digital gold coins when they behave well and participate enthusiastically, which can be exchanged for stickers. A similar system can be easily implemented at home. Do not to penalise your kids for wrong answers as it would discourage them from speaking more Mandarin.

7. Let’s get creative

Kids all learn differently so let’s get creative. For example, throw away the boring flashcard to teach “Apple” and get your child to paint or draw the fruit instead. Keep all their art works for an original picture dictionary!

If your kid likes games, why not learn word recognition using snakes and ladders – with a twist. Before taking turns to throw the dice, quiz your kids using word cards. If they recognise the word, they can throw and move. If they don’t, you get to move. Do remember to coach them if they forget. Within a few rounds, the desire to win will definitely improve their memory.  

8. Make Chinese a part of your daily life

If your child becomes used to speaking only English at home, it can be difficult to change. Start by weaving Mandarin into daily life – such as a set hour where the family communicates only in Chinese (and to sweeten the deal tie this hour to their favourite play time or activities). Or when out and about, consciously point out street names and places of interest etc in Chinese. For example, when you are next at the zoo, add 长颈鹿, after saying giraffe.

9. Help your kids appreciate Chinese language and culture

It’s easy to believe that Mandarin is all about drilling, spelling and word exercises. But your kids are missing out on the charming Chinese language, culture and history.

Change that by sharing interesting stories about how Chinese words came about with your younger kids while older children might like to hear about the origins of idioms or mythological characters.

10. Immerse your kids in Chinese

And what better way to appreciate Chinese language and culture than to travel to China or Taiwan? It is a great way to immerse your children in the rich culture and have them experience first hand how useful it is to learn Chinese!

Belajar mandarin dengan metode yang efektif di JagoMandarin.com.

June 02, 2015 /Baldwin Husin
  • Newer
  • Older

Guru
Biaya
HSK
Mandarin Bisnis
Korporat

Tangerang
Surabaya
Medan
Bandung
Makassar

Tes Kemampuan
Instagram
Artikel
Jasa Penerjemah
Lowongan
Jago Mandarin Online